Rubrik

Oleh BUDIARTO SHAMBAZY
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/02/utama/3868127.htm

Istilah “republik hamil tua” menunjukkan ketegangan dalam hubungan PKI-TNI AD-BK (Bung Karno). PKI merasa makin berkuasa, membuat khawatir TNI AD dan kekuatan antikomunis lainnya.
BK yang utopis ingin “berdiri di atas semua golongan” melalui Nasakom. Ia kerap menyebut dua putra mahkota: Menpangad A Yani dan Ketua Umum PKI DN Aidit.
Mengapa BK di saat-saat akhir lebih condong pada PKI? Fakta menunjukkan ia penemu Marhaenisme sebagai Marxisme Indonesia.
Tradisi Marxisme berurat akar dalam pergerakan nasional sejak era radikalisasi SI (Sarekat Islam) tahun 1917. PKI sudah memberontak terhadap Belanda di Silungkang tahun 1927.
Tokoh-tokoh komunis/sosialis ikut berjuang melawan Belanda sejak era SI sampai Proklamasi 1945. Ada Semaun Prawiroatmodjo, Muso, Tan Malaka, Amir Syarifuddin, sampai Sutan Sjahrir.
Seperti tangan, ada yang “kiri” dan ada yang “kanan”. Kalangan kanan menganggap PKI berkhianat sejak pemberontakan Madiun tahun 1948.
Pertentangan ideologis domestik itu proxy war antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet sejak Revolusi Rusia 1917. RI terjebak Perang Dingin sampai BK menggagas Konferensi Asia-Afrika (KAA).
BK dalam periode 1955-1965 lelah mengurusi bangsa ini. Ia mencoba berbagai resep konsensus nasional, termasuk Konsepsi, Dekret Presiden 5 Juli 1959, Manipol-Usdek, Nasakom, dan sebagainya.
Ia diganggu subversi AS, ditarik ke pusar persaingan Soviet-China, dan memperjuangkan Conefo. Ia diganduli pemberontakan PRRI/Permesta, operasi pembebasan Irian Barat, dan Konfrontasi.
Sebagai negara besar dan strategis, RI jadi ajang pertempuran antarintelijen. Yang ikut bermain tak cuma CIA, tetapi juga dinas intelijen Barat, komunis, Jepang, bahkan Malaysia dan Singapura.
Sejak 1960 fitnah yang diembuskan dinas-dinas intelijen jadi santapan harian. Soal kudetalah, Dewan Jenderal-lah, dan, yang teramat menarik, fitnah BK sakit keras.
Wajar setiap tokoh, parpol, dan kekuatan politik ambil ancang-ancang seandainya BK tutup usia. Wajar juga konflik PKI-TNI AD makin memanas.
Sampai kini Gerakan 30 September (G30S) sebuah enigma yang misterius. Namun, konstelasi politik berubah total akibat dari G30S yang berlangsung hanya dalam hitungan jam.
G30S peristiwa yang terpisah dengan pembunuhan massal warga tak bersalah, apalagi dengan penangkapan tanpa prosedur hukum. Hak-hak, harta benda, dan martabat para korban dilenyapkan, dicuri, dan diinjak-injak.
Amok terhadap saudara sebangsa itu ditanggapi kemarahan pemerintah, pers, dan masyarakat AS dan negara-negara Barat. Mereka makin geleng-geleng kepala melihat perlakuan terhadap tapol di Pulau Buru.
Itu sebabnya, Presiden AS Jimmy Carter ogah ke sini. Ratu Elizabeth turun tangan agar eksekusi mati terhadap mantan Menlu Soebandrio dibatalkan.

G30S melahirkan Orde Baru yang mengintroduksi budaya keras. Sikap enggan bertanggung jawab pemerintah tercermin dari kebiasaan mengoknumkan atau mengambinghitamkan siapa saja.
Selain oknum dan kambing hitam, masih ada “ekstrem kanan”, “ekstrem kiri”, bahkan “OTB” (organisasi tanpa bentuk). Jika sudah kepépét, masih ada “sisa-sisa PKI” atau “PKI Gaya Baru”.
Budaya keras lainnya bersiasat meletuskan kerusuhan dalam persaingan kekuasaan. Ada peristiwa Bandung ’73, Malari ’74, Lapangan Banteng ’82, Tanjung Priok ’84, “Petrus”, 27 Juli ’96, Kerusuhan Mei ’98, atau Tragedi Semanggi I ’98/Semanggi II ’99.
Dan, seperti biasa, tak ada tersangka karena semua merasa above the law. Anda dengan mudah menemukan mereka yang above the law cukup dengan mengikuti pemberitaan seharihari.
Kesimpulannya, Orde Baru tak lebih baik daripada Orde Lama. Mereka penelikung sejati yang bertahan hidup di atas bahasa politik eufimistis.
Kenaikan harga dipelésétkan jadi “penyesuaian harga”, warga miskin menjadi “prasejahtera”, atau penyebab banjir sebagai bencana buatan manusia adalah “fenomena alam”.
Saya senang dengan sebuah perumpamaan bahasa Inggris, “We’ve learnt that people don’t actually change very much”. Oleh sebab itulah Orde Reformasi tak ubahnya “Orde Baru Baru”.
Nyaris tak ada kultur yang berubah, hanya struktur yang berganti. Jika Orde Baru menerapkan demokrasi setengah hati, Orde Baru Baru mempraktikkan demokrasi setengah jadi.
Seperti biasa, 1 Oktober Pancasila kembali jadi korban. Telah lama Pancasila jadi status simbol seperti benda keramat, mobil SUV, ikan arwana, atau smartphone paling anyar.
Pelecehan terbesar terhadap Pancasila terjadi ketika Pak Harto bilang menyerang dia sama dengan menyerang Pancasila. Raja Perancis Louis XIV bilang “l’etat c’est moi” (saya adalah pemerintah).
Pancasila dimanfaatkan cuma sebagai gaya-gaya’an doang. Kini marak lagi gaya usang “awas bahaya komunisme” sebagai musuh Kesaktian Pancasila.
Sejak lahir, Pancasila sudah sakti, kok. Musuh paling berbahaya bukan komunisme, tetapi diri sendiri.
Pancasila bukan saja sakti, tetapi lima kebajikan universal ala Indonesia. Tetapi, kesaktiannya makin pudar karena dukun sering memanggilnya kayak arwah gentayangan.
Kalau saja bisa berbicara, jika dipanggil dukun lagi Si Pancasila akan menjawab singkat, “ICA!” Artinya, “Ih, capé ah!”

 

 

Sejarah pancasila

Pada tahun 1945, menghadapi kebutuhan untuk bekerja sama kepulauan beragam, Presiden Soekarno ditetapkan masa depan Pancasila sebagai “Dasar Negara” (landasan filosofis / filsafat politik negara Indonesia). Filsafat politik Sukarno terutama sekering unsur Sosialisme, nasionalisme dan monoteisme. Hal ini tercermin dalam proposisi versi nya Pancasila ia mengusulkan kepada Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (Komite Investigasi Upaya Persiapan Kemerdekaan, tanpa kata “Indonesia” karena yang telah ditetapkan oleh Angkatan Darat XVI Jepang, Kaigun, untuk Jawa saja), di mana ia awalnya dianut mereka dalam sebuah pidato yang dikenal sebagai “Lahirnya Pancasila” pada 1 Juni 1945 [1]:

1. Kebangsaan Indonesia (Indonesia Kebangsaan), penekanan pada Nasionalisme
2. Internasionalisme (Internasionalisme), penekanan tentang keadilan dan kemanusiaan
3. Musyawarah mufakat (Permusyawaratan Konsensus), penekanan pada demokrasi Perwakilan yang memegang dominasi etnis tetapi tidak ada suara yang sama untuk setiap anggota dewan
4. Kesejahteraan Sosial (Kesejahteraan Sosial), dipengaruhi oleh ide-negara Kesejahteraan, penekanan pada Sosialisme Kerakyatan
5. KeTuhanan Yang Berkebudayaan, Monoteisme dan Religiousity

Setelah pertemuan beberapa BPUPKI, lima prinsip (sila) yang diusulkan oleh Soekarno pada 1 Juni 1945, kemudian sedang diedit, disusun kembali dan dikaji ulang. Urutan setiap sila berubah; seperti sila kelima tentang religiousity dipromosikan menjadi sila pertama, internasionalisme yang berisi prinsipnya keadilan dan kemanusiaan tetap sebagai sila kedua. Yang sebelumnya sila pertama tentang nasionalisme menjadi sila ketiga tentang kesatuan Indonesia. Yang sila ketiga dan keempat tentang demokrasi dan perang sosial menjadi sila keempat dan kelima.

Ia kemudian membantu menyelesaikan konflik antara umat Islam, nasionalis dan Kristen. UUD 1945 kemudian ditetapkan Pancasila sebagai perwujudan prinsip-prinsip dasar negara Indonesia merdeka.

http://artikel.com/10/sejarah-pancasila-terlengkap-aspx

 

 

Kelebihan pancasila dibanding ideology yang lain

Pancasila memiliki kelebihan dari dua ideologi besar yang telah ada. Ia lebih baik (sempurna) dari Declaration of Independence dan Manifesto Komunis.

 

Pancasila sebagai ideologi memiliki karakter utama sebagai ideologi nasional. Ia adalah cara pandang dan metode bagi seluruh bangsa Indonesia untuk mencapai cita-citanya, yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Pancasila adalah ideologi kebangsaan karena ia digali dan dirumuskan untuk kepentingan membangun negara bangsa Indonesia. Pancasila yang memberi pedoman dan pegangan bagi tercapainya persatuan dan kesatuan di kalangan warga bangsa dan membangun pertalian batin antara warga negara dengan tanah airnya

Pandangan Soekarno yang demikian ini merupakan pengulangan dari apa yang pernah ia ucapkan pada Pidato 1 Juni, Hari Lahirnya Pancasila.

Bukti bahwa ideologi pancasila lebih baik dari dua ideologi itu karena

  1. Pancasila memuat pokok-pokok pikiran sedemikian rupa :
  • Pertama, sila Ketuhanan memuat pokok-pokok pikiran bahwa manusia Indonesia menganut berbagai agama, dengan kata lain ada kebebasan untuk beragama dan tidak beragama, serta ada kebebasan untuk berpindah agama (keyakinan)nya. Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan-pun, karena toleransinya yang sudah menjadi sifat bangsa Indonesia, mengakui bahwa kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa merupakan karakteristik dari bangsanya, sehingga mereka menerima sila Pertama ini.
  • Kedua, Nasionalisme Indonesia (maksudnya sila ke-3 dari Pancasila) bukanlah chauvinisme. Bangsa Indonesia tidak menganggap diri lebih unggul dari bangsa lain. Ia tidak pula berusaha untuk memaksakan kehendaknya kepada bangsa-bangsa lain (bandingkan dengan ideologi imperialisme dan kapitalisme). Di Barat, Nasionalisme berkembang sebagai kekuatan agresif yang mencari daerah jajahan demi keuntungan ekonomi nasionalnya. Di Asia, Afrika, dan Amerika Latin nasionalisme adalah gerakan pembebasan, gerakan protes terhadap penjajah akibat penindasan Barat.
  • Ketiga, Internasionalisme (maksudnya sila Kemanusiaan yang adil dan beradab) menghendaki setiap bangsa mempunyai kedudukan yang sederajat, setiap bangsa menghargai dan menjaga hak-hak semua bangsa.
  • Keempat, demokrasi (maksudnya sila ke-4 dari Pancasila) telah ada sejak dahulu di bumi Indonesia meskipun bentuknya beda dengan demokrasi yang ada di Barat. Demokrasi di Indonesia mengenal tiga prinsip: mufakat, perwakilan, dan musyawarah.
  • Kelima, Keadilan Sosial. Pada sila ini terkandung maksud untuk keadilan dan kemakmuran sosial, jadi bukan keadilan dan kemakmuran individu. Hanya dalam suatu masyarakat yang makmur berlangsung keadilan sosial.
    Sebagai bukti bahwa (ideologi) Pancasila mendapat dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, Soekarno mengajak semua unsur (golongan) yang ada di Indonesia dalam pidatonya itu.

Mereka yang ikut di belakang Soekarno pada waktu itu adalah: para pejabat tinggi dan para politisi. Mereka terdiri atas para panglima militer, ulama besar dari berbagai agama yang ada di Indonesia. Ada pimpinan Partai Komunis Indonesia, ada perwakilan dari golongan Katolik dan Protestan, dan ada pula sejumlah pimpinan dari golongan nasionalis (PNI dan lain-lain). Diikutsertakan dalam delegasi ke SU PBB itu adalah wakil buruh, tani, wakil golongan perempuan, dan wakil golongan cendekiawan.
Mengingat Pancasila, terutama demokrasi yang menitikberatkan musyawarah-mufakat, yang tidak ada dalam demokrasi Barat, maka Soekarno mengajak supaya bangsa-bangsa di dunia mengikuti ideologi Pancasila. Demikianlah kata Soekarno dalam  sidang itu, ‘Cara musyawarah ini dapat dijalankan, karena wakil-wakil bangsa kami berkeinginan agar cara-cara itu dapat berjalan….. semua menginginkannya, karena semuanya menginginkannya tercapainya tujuan jelas dari Pancasila, dan tujuannya yang jelas itu ialah masyarakat adil dan makmur.’

Dewasa ini, alih-alih Pancasila bisa diterima bangsa-bangsa di dunia, nasib ideologi Pancasila pun di dalam negeri masih dalam pertaruhan. Penyelewengan terhadap Pancasila mulai kentara di era Orde Baru. Pancasila telah dijadikan instrumen politik untuk menjaga status quo. Pancasila telah dijadikan asas tunggal. Yaitu satu-satunya asas yang menjadi dasar untuk hidup berbangsa, bernegara, bermasyarakat, termasuk dalam asas Politik.

Pancasila kemudian dijadikan tafsir yang bersifat monolitik, direktif, kaku, dan berorientasi ‘menghukum’ lawan-lawan politik pemerintah. Ada usaha, memang, untuk mengembalikan Pancasila berikut tafsirnya, sesuai dengan semangat para pejuang kemerdekaan, Pancasila yang dikehendaki Soekarno, Pancasila yang ditawarkan ke Sidang Umum PBB 30 September 1960. Tetapi, kondisi sekarang sudah berbeda dengan kondisi ketika Soekarno masih berkuasa. Indonesia sekarang, bahkan mulai Orba berkuasa, sudah dicengkram oleh kekuatan Neoliberalisme (penjajah baru yang lebih masif dan canggih dibandingkan dengan nenek moyangnya, Imperialisme dan Kapitalisme).

Kelebihan Lainya :  pancasila sebagai ideologi memberi kedudukan seimbang kepada manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.

http://www.isomwebs.com/kelebihan – ideologi – pancasila.php

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s